Puisi Karya Nova
Cinta Bertulang
Di kursi ini, kau selipkan secarik kertas tanpa ruas.
tanpa kau ucapkan dari lisan yang ditutupi lebatnya kumismu.
tanpa ekspresi, hanya saja aroma tak sedap kau tinggalkan; Asam.
siapa bilang kelukaan yang tersimbah tak lagi ada penggaris suka dalam cinta itu..?
Tubuhmu, tak segagah saat kau menggenggam kretek yang kau hutang
dengan senyuman dan hutang wajah memelas.
daat ketidak siapanku kau hadir begitu saja,
tapi cinta itu sudah kau lapisi dengan dusta yang musti kau bayar
dengan ketidak mampuanmu mengungkapkan kata sebenarnya.
tiada arti selama ini kau pendam diam-diam.
diruas buku yang pernah kau janjikan di hari ulangtahunku,
bercerita bagaikan orang terpidana,
dan tertawa laksana hakim yang akan menanyakan dimana kesetiaanmu
dalam kesepakatan cinta yang berwujud selama ini,
berbentuk tulang yang mengikat dua nama
nama aku dan kamu.
Studio Safasindo, 21/11/2014
-------
Penatnya Dikau Sobat
mencari harga diri bukan disini tempatnya sobat,
ada disana komunitas yang bisa mendengarkan keluh kesahmu semasa jabatan kepala kau pegang.
tempat yang banyak menyodorkan gejala kenikmatan sesaat,
silahkan pilih; putau, sakau, ekstasi, ganja, lem atau apalagi yang kau mau.
sudah ku bilang jangan,
bukan ini tempatnya kau berpamitan
pulang pada ibumu yang kelaparan menantikan sekantong beras.
itupun beras bekas sulingan dari rampasan anak nagari
yang berlari meninggalkan pesawahan nenek moyangnya.
berhentilah sejenak kawan,
tak penatkah kau pada pencarianmu selama ini..?
menangislah sobat, selagi air matamu masih mampu tersumbur keluar
menyapa kelukaanmu selama ini
dan menyapa ke-egoisanmu pada murka kau di hadapan cermin.
menangislah dobat hingga penatnya dikau dapat teraih.
Studio Safasindo, 21/11/2014
Profil Penulis
Nova, lahir di Payakumbuh 19 Juli 1982. Sehari-hari bekerja sebagai Penyiar Radio Safasindo FM, Guru dan Koordinator Sumatera Barat dalam penulisan Feature dan penulis lepas dibeberapa Koran dan media online, selain itu juga sebagai motivator untuk anak sekolah dan mahasiswa serta guru. Sebagian puisi telah tergabung kedalam Antologi Puisi Episod Pacar Merah Sumatera Barat, Antalogi Puisi Pesona Gemilang Musim Pekanbaru, Antalogi Pahlawan. Meraih PPWI Award 2011 Padang Panjang dalam bidang Feature, dan mendapatkan pendidikan kemiliteran di KOPPASUS Cijantung serta satu-satunya perempuan se-Indonesia dalam pelatihan jurnalis di markas Kopassus. Sebagian puisi sering dibacakan dalam acara-acara besar Islam, dan Nasional. Sekarang menetap dikampung halaman. Jln Mentilan No. 31 Ling III RT 001/ RW 003, Payakumbuh Utara, Sumatera Barat
Di kursi ini, kau selipkan secarik kertas tanpa ruas.
tanpa kau ucapkan dari lisan yang ditutupi lebatnya kumismu.
tanpa ekspresi, hanya saja aroma tak sedap kau tinggalkan; Asam.
siapa bilang kelukaan yang tersimbah tak lagi ada penggaris suka dalam cinta itu..?
Tubuhmu, tak segagah saat kau menggenggam kretek yang kau hutang
dengan senyuman dan hutang wajah memelas.
daat ketidak siapanku kau hadir begitu saja,
tapi cinta itu sudah kau lapisi dengan dusta yang musti kau bayar
dengan ketidak mampuanmu mengungkapkan kata sebenarnya.
tiada arti selama ini kau pendam diam-diam.
diruas buku yang pernah kau janjikan di hari ulangtahunku,
bercerita bagaikan orang terpidana,
dan tertawa laksana hakim yang akan menanyakan dimana kesetiaanmu
dalam kesepakatan cinta yang berwujud selama ini,
berbentuk tulang yang mengikat dua nama
nama aku dan kamu.
Studio Safasindo, 21/11/2014
-------
![]() |
| Nova |
mencari harga diri bukan disini tempatnya sobat,
ada disana komunitas yang bisa mendengarkan keluh kesahmu semasa jabatan kepala kau pegang.
tempat yang banyak menyodorkan gejala kenikmatan sesaat,
silahkan pilih; putau, sakau, ekstasi, ganja, lem atau apalagi yang kau mau.
sudah ku bilang jangan,
bukan ini tempatnya kau berpamitan
pulang pada ibumu yang kelaparan menantikan sekantong beras.
itupun beras bekas sulingan dari rampasan anak nagari
yang berlari meninggalkan pesawahan nenek moyangnya.
berhentilah sejenak kawan,
tak penatkah kau pada pencarianmu selama ini..?
menangislah sobat, selagi air matamu masih mampu tersumbur keluar
menyapa kelukaanmu selama ini
dan menyapa ke-egoisanmu pada murka kau di hadapan cermin.
menangislah dobat hingga penatnya dikau dapat teraih.
Studio Safasindo, 21/11/2014
Profil Penulis
Nova, lahir di Payakumbuh 19 Juli 1982. Sehari-hari bekerja sebagai Penyiar Radio Safasindo FM, Guru dan Koordinator Sumatera Barat dalam penulisan Feature dan penulis lepas dibeberapa Koran dan media online, selain itu juga sebagai motivator untuk anak sekolah dan mahasiswa serta guru. Sebagian puisi telah tergabung kedalam Antologi Puisi Episod Pacar Merah Sumatera Barat, Antalogi Puisi Pesona Gemilang Musim Pekanbaru, Antalogi Pahlawan. Meraih PPWI Award 2011 Padang Panjang dalam bidang Feature, dan mendapatkan pendidikan kemiliteran di KOPPASUS Cijantung serta satu-satunya perempuan se-Indonesia dalam pelatihan jurnalis di markas Kopassus. Sebagian puisi sering dibacakan dalam acara-acara besar Islam, dan Nasional. Sekarang menetap dikampung halaman. Jln Mentilan No. 31 Ling III RT 001/ RW 003, Payakumbuh Utara, Sumatera Barat

Post a Comment