Header Ads

test

“Demam” Batu Akik Rambah Kota Payakumbuh

Syafriyon, peminat batu akik
PAYAKUMBUH, MINANGTERKINI- Masyarakat Indonesia kini tengah dilanda 'demam' batu akik. Trend menggunakan batu akik sebagai perhiasan pun kini kembali naik daun. Tidak terkecuali bagi masyarakat yang berada di Kota Payakumbuh dan Limapuluh Kota, penggila batu akik benar-benar merambah daerah Luak Nan Bungsu ini.

Buktinya, tidak sedikit peminat dan pembisnis batu akiak bermunculan di  kedua daerah ini. Malah, di pusat pertokoan pasar Payakumbuh, nyaris setiap emperan toko bermunculan penjual dan pengasah batu akik.

Tak hanya itu, di sejumlah daerah penghasil batu akik, seperti di Kecamatan Suliki, Akabiluru, Bukit Barisan dan Harau sudah banyak bermunculan pengarjin batu akiak.

Ada banyak jenis batu-batuan, fungsinya pun bermacam-macam. Ada yang memakainya hanya untuk menunjang penampilan semata, untuk mendapatkan keberkahan dan sebagai ladang bisnis. Beberapa jenis batu menjadi primadona tersendiri bagi para kolektor dan pecinta batu. 

Hebatnya, peminat batu akiak tersebut tidak saja kaum lelaki, bahkan kaum perempuan pun juga sudah banyak yang ketularan sebagai ‘penggila’ batu akiak.

Salah seorang peminat batu akiak Kota Payakumbuh bernama Syafriyon yang sehari-hari bertugas di Kodim 0306/50 Kota, kepada sejumlah wartawan di Payakumbuh, Minggu (23/11), mengatakan, perhiasan berupa batu akiak sebetulnya sudah lama di Payakumbuh, namun dalam beberapa bulan ini telah menjamur di mana-mana.

“Kita lihat saja di RM Pergaulan, puluhan orang bercerita dan saling melihatkan berbagai koleksinya terhadap batu akik. Menariknya, setiap orang yang memakai batu akiak berbeda jenis dan warna. Kalau dijumlahkan dengan orang yang memakai seribu orang tentu jenisnya seribu pula,” ungkapnya.

Dia mengatakan, maraknya penggila batu akik di Kota Payakumbuh, sangat berdampak kepada peningkatkan ekonomi masyarakat. “Bayangkan, penjualan satu buah batu akik jenis Lumuik Suliki bisa terjual ratusan ribu rupiah. Apalagi jika lumuik Suliki super harga jualnya mencapai jutaan rupiah,” sebut Syafriyon

Menurutnya, banyak masyarakat yang ketiban imbas menguntungkan dari semakin naik daunnya batu akik ini. Malah, pengrajin batu akik makin banyak bermunculan. Intinya, sangat berdampak kepada peningkatkan ekonomi masyarakat.

“Bayangkan, si pengarajin batu akik mampu menerima upah asah batu akiak sebanyak 30 buah dalam satu hari. Sementara upah mengasah satu buah batu akiak Rp 20 ribu rupiah. Dapat dibayangkan, dalam satu hari penghasilan si pengrajin batu akiak bisa mencapai Rp 600 ribu,” ujarnya.  

Berbicara soal batu akiak ini, katanya, tidak ada perdebatan sakit hati, semuanya berjalan damai dan penuh ketawa. Cuma saja, saat ini batu akiak belum ada nilai yang signifikan, batu sebatas suka sama suka.

“Jujur saya katakan, saya hobby dengan semua jenis batua akiak, yang saya pakai ini batu akiak jenis bacan, di kantong celana saya ada beberapa jenis batu akiak Lumuik Suliki, ini saya pakai semuanya, sekali-kali bacan, dan esoknya Lumuik Suliki,” ujarnya sambil tersenyum.

“Jika ada kawan-kawan berminat dengan perhiasan yang saya pakai ini maupun yang ada dikantong celana, dengan senang hati saya kasihkan dan saya sangat bangga jika batu akiak saya dipakai orang lain,” imbuhnya.  

Sementara, salah seorang anggota DPRD Kota Payakumbuh, Ridwan Sabirin, yang juga penghobby batu akiak mengatakan, fenomena batu akiak memang sangat menarik.

“Dari hari ke hari masyarakat Kota Payakumbuh tidak akan berhenti mencari dan berbicara batu akiak. Atas nama pribadi dan DPRD saya mendorong masyarakat yang berbisnis dan hooby batu akiak. Bisnis batu akiak diyakini dapat mendongkrak ekonomi. Disisi  lain, jika ini diprioritas oleh dinas terkait, juga dapat mendongkrak PAD,” ujar politisi Partai Demokrat ini.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Koperindag Kota Payakumbuh H.Dahler.SH, mengatakan, pihaknya menyambut baik keberadaan berbagai jenis perhiasan berupa batu akiak, ini perlu kami sikapi dan ditindak lanjuti.

“Awalnya, saya kaget di pasar, kenapa pasar kota Payakumbuh yang saya bidangi ini ramai setiap hari hingga malam, ada apa sebenarnya. Setelah dilihat kelokasi, ternyata, keramaian itu, masyarakat sedang “maikek batu akiak,” ujarnya.

Sebetulnya, dia menambahkan, sudah terpikir bagi Dinas Koperasi, UKM dan Koperindag Kota Payakumbuh untuk menyikapi kebaradaan pembisnis dan pengrajin batu akiak. “Namun, tolong dibuat asosiasinya, agar kami dapat memfasilitasinya dengan mendirikan hak paten dan apa yang diperlukan,” katanya.

“Kapan perlu, kami patenkan pakai sertifikat dari pemerintah daerah. Pada bulan Desember tanggal 17 nanti, kita gelar secara besar-besaran pagelaran batu akiak,” ujar Dahler dengan penuh semangat. (sakti)


Tidak ada komentar