Anak Korban Perampokan di Piobang Masih Trauma
![]() |
| Ilustrasi |
Hal itu disampaikan orang tua korban kepada sejumlah awak media di Balai Wartawan (BW) Luak Limopuluah, Kota Payakumbuh, Kamis (4/12) siang kemarin.
Witna Dewita mengungkapkan, pada peristiwa perampokan itu, mereka sekeluarga harus berjibaku mempertaruhkan nyawa melawan empat pria bersebo bersenjata tajam tersebut. Bahkan, Witna dan Ipal serta anak gadisnya sempat ditodong dengan senjata tajam ke arah leher, lalu diseret ke dalam kamar.
Pelaku lalu mengacak isi rumah dan menyikat sejumlah harta perhiasan dan uang, sebelum akhirnya kabur karena takut digrebek warga, dengan meninggalkan mobil yang digunakan untuk melakukan aksi kejahatan itu di lokasi.
“Masih untung anak bujang saya lolos dalam kejadian itu, karena dia mengendap-endap lari keluar rumah dan memberitahu warga. Tapi, peritiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi kami, terutama terhadap Widia. Dia dihantui trauma berat jika berada di rumah,” ujar Witna lirih.
Dia mengaku, anaknya yang masih duduk kelas III di MTSN Dangung-dangung Limapuluh Kota itu, memang menjadi anggota inap di asrama sekolahnya di Dangung-dangung. Namun, jika ada keperluan dan terpaksa pulang ke rumahnya di Piobang, Widia kerap mengungkapkan kekhawatirannya.
“Jika dia pulang ke rumah, Widia mengaku trauma dan takut jika peristiwa perampokan yang menerima kami kembali terulang. Jika terpaksa nginap di rumah, dia memaksa tidur bersama saya dan bapaknya dalam kamar bertiga. Dia tak berani sendiri,” paparnya
Ditambahkan, kondisi fisik anaknya itu sebelum kejadian perampokan, sebenarnya juga labil. “Dia dulu kerap seperti orang kesurupan. Tidak itu saja, dia adalah seorang penderita penyakit asma. Apalagi kini dia merasa trauma dengan kejadian perampokan tersebut, kami sebagai orang tua sangat prihatin,” ucap Witna memelas, seakan ingin menumpahkan tangis di hadapan wartawan yang mewawancarainya.
Peristiwa perampokan itu sendiri langsung dilaporkan hari itu juga oleh Ipal dan Witna ke Kepolisian Resort Kota (Polresta) Payakumbuh, dengan Laporan Polisi Nomor : LP/K/583/XI/2014, tanggal 17 November 2014, tentang tindak pidana pencurian dengan kekerasan, sebagaimana dimaksud dalam rumusan pasal 365 KUH Pidana.
Sejumlah barang bukti juga diserahkan Ipal ke pihak penyidik, berupa dua buah sangkur dengan panjang sekira 50 centimeter dan 35 cm, dua buah linggis, satu penutup wajah (sebo) warna abu-abu, satu buah tas warna hitam, dan juga satu unit mobil warna putih yang ditinggalkan pelaku. Hingga saat ini sudah 18 hari peristiwa itu terjadi, kasus tersebut masih dalam pengusutan pihak kepolisian.
Sementara, Kapolresta Payakumbuh, AKBP Yuliani SH, yang tengah berada di Semarang saat dikonfirmasi wartawan melalui telpon selulernya, mengaku kasus tersebut dalam pengusutan pihaknya. Namun, untuk kelengkapan informasi dia meminta wartawan menghubungi Waka Polresta Kompol M. Yudie Sulistiyo.
Waka Polresta ketika dikonfirmasi juga meminta wartawan untuk menghubungi Kasat Reskrim. Hingga saat ini Kasat Reskrim belum bisa dihubungi.
Kronologis Perampokan
Kepada anggota Balai Wartawan Luak Limopuluah, Ipal menceritakan, dia mengalami kasus perampokan pada Senin (17/11) sekitar pukul 02.30 Wib, kejadian tersebut terjadi saat korban dan keluarganya tengah tertidur lelap. Tiga pelaku bersebo yang diduga berjumlah 4 orang tersebut, masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang rumah.
“Saat itu saya tidur nyenyak, tiba-tiba mendengar suara istri berteriak. Pas bangun lampu mati, saya langsung didatangi pria bersebo lalu dihadang pakai sangkur. Saya sempat berteriak, namun diancam, jangan berteriak, kubunuh kau,” ujarnya.
Ipal mengaku saat itu tak ada kegamangan sedikitpun menghadapi ancaman seperti itu. Dia melakukan perlawanan, perampok sempat mengayunkan sangkur sebanyak empat kali ke tubuhnya, namun tak satupun yang kena. Pada tusukan keempat Ipal sempat membuka sebo di wajah pelaku. Wajah itu sampai saat ini masih teringat dan terngiang-ngiang di pikiran Ipal.
Namun, perlawanan Ipal runtuh juga setelah satu teman perampok datang membantu. Ipal akhirnya diancam dengan sangkur, lalu diseret ke kamar sebelah. Di sana dia melihat istri dan anak gadisnya disandera dengan todongan senjata tajam.
Setelah itu tiga perampok dengan bebas mengacak-acak isi rumah, seraya menggertak korban untuk menyerahkan sega perhiasan uang dan harta benda berharga lainnya. “Istri saya bilang tak punya duit, namun pelaku melihat kalung istri saya, lalu dirampas,” katanya.
Kawanan perampok berhasil menyikat dua buah handphone, kalung seberat 10 emas, uang Rp150ribu, serta dompet dan surat-surat. Kerugian diperkirakan mencapai Rp17juta.
Dari pengakuan Ipal, saat itu, jumlah perampok yang masuk ke rumah berjumlah 3 orang. Kawanan perampok tersebut, belakangan pergi satu persatu meninggalkan rumah. Diduga mereka takut warga terbangun. Pas ketiga pelaku keluar, mobil terdengar hidup, lalu dikejar Ipal setelah mendapatkan parang di balik pintu.
Saat di luar rumah, mobil perampok ternyata dihadang anak bujang Ipal, Ari Fernando (17), sekitar 100 meter dari rumah dengan batang bambu. Mobil mobil akhirnya menabrak pohon, kawanan perampok berusaha mendorong mobil, namun dikejar Ipal.
Ipal akhirnya diserang tiga perampok, dan sempat dilempar pakai sangkur panjang 50 cm, namun tak kena. Bahkan Ipal menyebutkan, salah satu pelaku sempat terkena sabetan parang miliknya.
Kawanan perampok akhirnya melarikan diri dengan meninggalkan mobil, karena takut dikeroyok warga yang datang, setelah Ipal dan anaknya terus berteriak minta pertolongan warga. (skt)

Post a Comment