Penyandang Tuna Netra Meriahkan Gerak Jalan Disabilitas LPP RRI Bukittinggi
![]() |
| Kegiatan gerak jalan santai sebagai rangkaiaan peringataan Hari Disabilitas Internasional 2014 yang digelar LPP RRI Bukittinggi, Minggu (30/11/2014). Foto Rudi |
BUKITTINGGI, MINANGTERKINI- Sekitar 300 peserta yang terdiri dari Masyarakat umum dan penyandang disabilitas dari kalangan Sekolah Dasar Hingga SLTA di Kota Bukittinggi dan sekitarnya, turut berpartisipasi mengikuti kegiatan gerak jalan santai sebagai rangkaiaan peringataan Hari Disabilitas Internasional 2014 yang digelar LPP RRI Bukittinggi, Minggu (30/11/2014).
Sebelum start dimulai salah seorang penyandang tuna netra asal Surabaya, Dwi Kurniawan Putra (45), yang telah lama menetap di Bukittinggi mengatakan, gerak jalan santai ini rasanya sangat bermanfaat, disamping untuk menjalin silaturahmi, dalam hal ini dapat dibuktikan bahwa penyandang tuna netra juga dapat beraktivitas secara mandiri.
Pada gerak jalan santai kali ini, jelas Dwi Kurniawan Putra, 17 penyandang tuna netra yang tergabung dalam Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Kota Bukittinggi turut berpartisipasi, hal itu berkat bantuan dari mitra bakti salah satu organisasi sosial pemerhati penyandang tuna netra,
“Mereka sangat peduli pada kami, disamping memberikan bantuan moril dan spiritual, kami juga dibantu secara ekonomi,” tukasnya.
Gerak jalan santai disabilitas ini dilepas langsung oleh Walikota Bukittinggi Ismet Amzis didampingi Kepala Stasiun LPP RRI Bukittinggi Fitra Widjaja, diiringi forider dari Satuan Lalu Lintas rombongan peserta berjalan sesuai dengan rute yang telah ditetapkan panitia pelaksana.
Di hadapan peserta jalan santai Walikota Ismet Amzis mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan LPP RRI Bukittinggi sangat membantu penyandang disabilitas untuk saling berinteraksi dengan masyarakat sekitar, dan olahraga ringan ini juga dapat menjadi sarana untuk menjaga kebugaran fisik mereka.
“Untuk penyandang disabilitas ini, Pemerintah Kota Bukittinggi juga memberikan perhatian khusus terutama bagi mereka yang masih di usia sekolah, dimana saat ini terdapat 21 sekolah mulai dari jenjang Sekolah Dasar hingga SLTA yang dapat menampung anak berkebutuhan khusus atau yang lebih dikenal dengan pendidikan inklusi, “ jelasnya.
Terkait pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus itu terang Ismet Amzis, Bukittinggi juga telah dicanangkan sebagai kota inklusi, dalam hal ini setiap sekolah penyelenggara berkewajiban memberikan pendidikan yang layak, karena sebagai manusia mereka juga berhak mendapatkan pendidikan layaknya anak-anak normal.
Pada kesempatan yang sama Kepala Stasiun LPP RRI Bukittinggi Fitra Widjaja mengatakan, gerak jalan ini berlangsung secara serentak di seluruh stasiun LPP RRI se Indonesia, dengan tujuan memberikan rasa percaya diri bagi seluruh penderita disabilitas atau cacat, sehingga mereka terasa lebih diperhatikan dan diterima dalam kondisi yang sama dalam kehidupan bermasyarakat.
“Penyandang cacat atau disabilitas memiliki kesempatan yang sama dengan manusia normal dalam memperoleh pendidikan, tumbuh kembang, mereka juga manusia yang produktif yang perlu mendapatkan perhatian,” jelasnya.
Sebagai bukti nyata, terang Fitra Widjaja, dari segi fisik mereka juga tidak kalah kuat berjalan kaki sejauh 3 Kilometer seperti manusia normal lainnya. Namun terkadang sebagian dari orang tua mereka terasa minder dengan kondisi anaknya dan hal itu jadi tugas kita sebagai lembaga penyiaran yang juga dapat mempersatukan masyarakat, termasuk bagi mereka yang memiliki kekurangan ini.
Sementara itu pemerhati disabilitas Kota Bukittinggi, Fitriyeni, menjelaskan, kegiatan yang diadakan LPP RRI Bukittinggi turut memotivasi dan menggembirakan anak berkebutuhan khusus, karena kondisi seharusnya mereka sama dengan anak-anak normal dan suasana seperti ini sangat mereka butuhkan.
“Dalam Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, penyandang cacat atau Disabilitas juga memiliki hak untuk tumbuh kembang, memperoleh pendidikan, perlindungan, serta menyatakan potensi yang dimiliki, “ terangnya.
Kedepan, tambah Fitriyeni, hendaknya Pemerintah Kota Bukittinggi lebih pro aktif mengadakan kegiatan atau program khusus bagi masyarakat penyandang cacat atau Disabilitas, sekaligus memperhatikan keberadaan mereka yang juga layak untuk dibantu, termasuk hak memperoleh perlakuan yang sama layaknya manusia normal.(Rudi)

Post a Comment