Header Ads

test

Puisi Karya Nova

Yang Terselip

Kematian sering kali berbisik
Untuk mengajak mereka yang telah bosan
Bernafas, dan menghitung rangkaian
bidadari-bidadari,
Yang terselip
Namamu dan namaku
Menghadiahkan selembar tinta amal putih
Merah dengki.
Kemanapun kau melangkah dialah
sahabatmu
Bila kau ceroboh menanggapi sisi
Persahabatn itu maka kematianlah
Yang akan menjawabnya, itulah teka-teki
hidup sesungguhnya

Januari, 06

--------------------


Nilai Tak Ber-arti

Aku berjihad dengan tiga nasehat
Jika bersifat hikmah penunduk dumeh
Dan aku tidak bisa bersahaja dengan
Tiga nasehat itu kalau tak satupun
Dari ketiganya menghalangi rasa pengecut
Terhadap nilai tak punya arti
Dan aku tidak mau berjaya
Diatas penderitaan orang lain
Kalau itu bisa membuatku bahagia
Dan kau tidak mau bersusah – susah
Kalau susah itu tidak mengajariku
Arti kedewasaan dan jati diri yang berharga

Kampus, 06


------------------

YA


Ketika kilat bertengger pada pergelangan
Tangan
Maka mengalirlah embun kesejukan
Di atas murka segores duka

Panjang, Nov 04
------------------

 
Nariyah


Ya Rabb ku
Tulang ini telah lama rapuh
Rindu bisa berkumpul bersama
Dan melagukan syalawat  nariyah
Pengokoh tahta derajat bertulang,
Dan ya Robb …,
Kepalaku telah lama disinggahi garis-garis
Putih, seakan menyatu dengan langit. Juga
Menabur kenangan hidup yang bermakna,
Ditengah keriangan lirikan rasa pasrah,
Menjamu hati yang semakin bersaksi,
Dengan intropeksi diri.

Padang, 04
 

------------------

Lubuk Surga-Mu


Wahai kasih … !
Jika aku cemburu padamu, hadirlah
Engkau menyatu dalam qalbuku

Tapi bila waktu itu telah engkau
Janjikan masukkan aku dalam lubuk
SorgaMu


Riau, Des 05
------------------
 
Tergadai Sudah


Sakit tak bisa diungkapkan dengan sebuah,
Kata dan sunggingan jiwa,
Kecemberutan wajah,
merusak pemandangan
Alam semesta
Dengan tipu muslihat,
tergadai sudah
Penghambaan seorang bandit,
bangkit untuk bersimpuh
Sejauh nagin yang menghadiahkan kabut,
Diilalang trotoar, hilang dan musnah.

Payakumbuh, 5 Des 14
------------------

Pada Serabut

Tersusun sudah abjad demi abjad
Memori percikan air yang tergenang
Diantara daun keladi dan daun Bayam,
sulit mencerna kata yang tersirat
Kata daun tak punya arti makna pucuk,
kata akar tak punya makna pada serabut,
Dan kata buah sungguh ada pada makna
Hidup manusia

Payakumbuh, 5 Des 14


------------------------------------

Nova
Profil Penulis
Nova, lahir di Payakumbuh 19 Juli 1982.  Sehari-hari bekerja sebagai Penyiar Radio Safasindo FM, Guru dan Koordinator Sumatera Barat dalam penulisan Feature dan penulis lepas di beberapa Koran dan media online, selain itu juga sebagai motivator untuk anak sekolah dan mahasiswa serta guru. Sebagian puisi telah tergabung ke dalam Antologi Puisi Episod Pacar Merah Sumatera Barat, Antalogi Puisi Pesona Gemilang Musim Pekanbaru, Antalogi Pahlawan. Meraih PPWI Award 2011 Padang Panjang dalam bidang Feature, dan mendapatkan pendidikan kemiliteran di KOPASSUS Cijantung serta satu-satunya perempuan se-Indonesia dalam pelatihan jurnalis di markas Kopassus. Sebagian puisi sering dibacakan dalam acara-acara besar Islam, dan Nasional.  Sekarang menetap di kampung halaman. Jln Mentilan No. 31 Ling III RT 001/ RW 003, Payakumbuh Utara, Sumatera Barat.

 

Tidak ada komentar